1. DEMAM

Demam bukanlah penyakit melainkan gejala dari penyakit atau mekanisme pertahanan tubuh bayi terhadap kuman atau virus yang masuk ke dalam tubuhnya. Bayi dikatakan demam bila suhu tubuhnya mencapai 38° C atau lebih.

Saran: Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memberikan obat penurun panas yang dapat dilakukan setiap 4 jam sekali. Dosisnya disesuaikan dengan yang tercantum dalam kemasan atau sesuai anjuran dokter.

Bila selama 1×24 jam pascapemberian obat suhu tubuhnya tidak cenderung turun, apalagi bila kondisi ini dibarengi gejala penyerta lain, seperti mencret, batuk atau pilek, segera periksakan bayi ke dokter.

2. BATUK

Batuk sebenarnya tidak selalu mengindikasikan suatu gangguan kesehatan yang berbahaya. Seperti demam, gejala ini hanya suatu bentuk mekanisme pertahanan tubuh pada bayi yang merupakan daya refleks untuk menghalau benda-benda yang masuk saluran pernapasannya.

Saran: Bila batuknya hanya 3-4 kali dalam sehari dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari, tak perlu dikhawatirkan. Berikan banyak ASI untuk meredakan batuknya. Upayakan posisi tubuh bayi agak miring ketika tidur sehingga lendir atau dahaknya dapat mengalir turun keluar dari tenggorokan.

Cobalah mencari tahu penyebabnya dan hindari bayi dari penyebab tersebut. Penyebab batuk pada bayi yang paling sering terjadi karena alergi. Bisa alergi udara, debu, makanan, dan lain-lain.

Nah, saat batuknya sudah dirasa sangat mengganggu—sampai membuatnya tidak bisa tidur, selalu muntah ketika makan, ataupun disertai demam— segera konsultasikan hal ini pada dokter.

3. PILEK

Pilek adalah mekanisme pertahanan tubuh bayi dalam memerangi kuman yang masuk ke dalam rongga hidung.

Saran: Bila hanya sekadar mengeluarkan cairan atau lendir dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari, tak perlu sampai dibawa ke dokter. Umumnya dalam waktu 3–5 hari pileknya akan sembuh sendiri. Cukup berikan makan dan minum sesuai dengan menu sehari-hari.

Untuk mengurangi lendir yang terlalu kental, gunakan air garam steril (NaCL 0,9 %) yang dapat dibeli bebas di apotek sebagai tetes hidung. Gunakan pipet, teteskan sebanyak 2 tetes pada setiap lubang hidungnya, bila tersumbat.

Cara lain untuk mengurangi sumbatan adalah dengan menyedot lendir menggunakan alat pengisap lendir. Lakukan hati-hati agar tidak terjadi iritasi. Hidung yang lecet dapat menimbulkan masalah baru, yakni timbulnya radang sekunder di sekitar lubang hidung.

Bayi baru perlu diperiksakan ke dokter kalau pileknya sudah begitu mengganggu: napas bayi jadi sesak atau ia tidak bisa tidur karena hidungnya terus-menerus tersumbat, atau terlalu banyak lendir di rongga hidungnya.

4. MENCRET

Bila menyusu ASI, maka pada 2 minggu pertama kehidupannya, bayi akan sering mengalami buang air seolah-olah “mencret” hingga 5–10 kali dalam sehari. Selama berat badannya tetap mengalami peningkatan, kondisi ini tak perlu dikhawatirkan. “Mencret” yang dialaminya merupakan reaksi tubuh bayi pada kolostrum (ASI pertama yang diproduksi oleh ibu) yang mengandung sejenis zat seperti “pencahar”. Namun tidak semua bayi mengalami hal seperti ini. Bisa jadi malah frekuensi BAB-nya hanya 1 kali setiap 3–4 hari. Ini pun wajar saja.

Bayi yang menyusu ASI umumnya kelak akan lebih sedikit memiliki keluhan dalam hal gangguan pencernaan dibandingkan dengan bayi yang mengonsumsi susu formula.

Saran: Berikan ASI eksklusif hingga bayi berusia 6 bulan, selanjutnya bila memungkinkan terus pertahankan hingga bayi berusia 2 tahun.

Gangguan pencernaan pada bayi yang minum susu formula biasanya berupa mencret. Mencret patut diwaspadai bila frekuensinya sering (lebih dari 4 kali) dan tidak ada ampasnya, serta volumenya setiap buang air tampak tidak normal. Untuk mengamati volumenya normal atau tidak, coba bandingkan dengan volume kotoran bayi kala BAB dalam kondisi sehat. Bila volumenya lebih banyak daripada biasanya, berarti mencret. Apalagi bila disertai demam, mual dan muntah. Mencret seperti ini harus segera ditangani di rumah sakit.

5. MATA BELEKAN

Belek adalah reaksi normal pada mata bayi ketika saluran air matanya belum berfungsi normal. Akibatnya, air matanya tergenang dan menjadi belek. Ini bukan penyakit dan sering terjadi pada bayi usia 1 bulan. Jadi tak perlu khawatir.

Saran: Lakukan pijatan lembut dan perlahan di wilayah kelopak mata dengan ujung jari telunjuk. Mulailah dari ujung mata dekat dahi menuju ke bagian tengah dahi. Pijatan ini juga bisa dilakukan sambil membersihkan mata bayi dengan menggunakan kapas bersih yang telah dicelup air hangat. Kalau masih bingung, silakan konsultasikan pada dokter.

6. KOLIK

Umumnya menimpa bayi baru lahir hingga usia 6 bulan, ditandai dengan tangisan panjang si kecil dengan nada melengking. Meski hingga kini belum diketahui penyebabnya namun yang pasti kolik bukanlah penyakit. Menurut penelitian, kolik terjadi karena fungsi pencernaan bayi yang belum normal dan produksi enzim yang juga belum sempurna. Namun seiring bertambahnya usia bayi, kolik akan hilang dengan sendirinya.

Saran: Gunakanlah pendekatan psikologis. Tenangkan bayi, gendong dan peluklah ia sambil ditepuk-tepuk lembut. Bila perlu, gunakan metode gendong kanguru (cara menggendong bayi yang ditempelkan di dada ibu sehingga terjadi skin to skin contact/kulit bersentuhan dengan kulit) karena dapat membuatnya merasa lebih nyaman.

7. RUAM KULIT

Ruam kulit yang dialami si kecil belum tentu merupakan reaksi alergi. Kulit bayi belum berfungsi optimal, sehingga tentunya lebih peka terhadap benda asing. Inilah yang terkadang membuat kulitnya bereaksi dengan mengeluarkan bercak kemerahan. Kulit yang masih peka ini akan berlangsung hingga bayi berusia kurang lebih 1 tahun.

Saran: Bersihkan bagian kulit yang mengalami ruam dengan air bersih, kemudian lap hingga kering. Bila perlu gunakan krim/salep khusus bayi (konsultasikan terlebih dulu pada dokter anak) dan oleskan tipis-tipis di daerah ruam.

Yang terpenting dalam masalah ruam kulit adalah kepekaan orangtua untuk mencermati penyebabnya. Terkadang, beberapa penyebabnya tidak disadari. Seperti, karena kita mengganti merek pospak yang sudah biasa dikenakan pada bayi dengan merek lain. Bisa jadi bahan yang digunakan pada pospak merek lain tersebut tidak cocok dengan kulit si kecil.

8. KERAK KEPALA

Kerak kepala ditandai dengan warna kemerahan di kulit kepala bayi, kadang disertai kerak kekuningan dengan atau tanpa gatal. Kondisi yang kerap muncul di usia 2-3 minggu ini tak perlu dikhawatirkan sebab hanya merupakan lepasan dari folikel rambut bayi. Ketika si kecil usia 8–12 bulan, biasanya kerak kepala sudah tidak ditemukan lagi.

Saran: Masalah kerak tidak berbahaya, tetapi tidak boleh dibiarkan karena bisa menghambat keluarnya keringat dan mengundang datangnya bakteri sehingga menyebabkan infeksi pada bayi.

Untuk membersihkan, olesi kerak kepala bayi dengan baby oil. Diamkan sejenak atau bila perlu semalaman baru selanjutnya dibersihkan dengan sisir bergigi rapat. Dengan cara itu kerak akan lepas dari kulit kepalanya. Bila kepala si kecil sudah tampak bersih, keramasi dengan menggunakan sampo bayi. Bilas sampai bersih dan keringkan dengan handuk yang lembut.

9. LIDAH PUTIH

Permukaan lidah yang tampak putih bukanlah penyakit melainkan sisa-sisa susu yang melekat di situ dan mendorong tumbuhnya organisme yang tidak berbahaya. Kondisi lidah putih ini umumnya akan lebih ekstrem terjadi pada bayi yang minum susu formula ketimbang bayi yang menyusu ASI.

Saran: Setiap habis minum ASI, bilaslah lidah bayi dengan 1 sendok makan air putih.

10. KULIT BERSISIK

Pada minggu-minggu pertamanya, sebagian besar bayi memiliki kulit yang tampak kering dan mengelupas, terutama pada tangan dan kaki. Ini adalah sesuatu yang normal.

Saran: Tak perlu tindakan apa pun karena umumnya akan menghilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu.