Ketika bayi lahir, kelima indra (peraba, pengecap, penciuman, pendengaran hingga penglihatan) sudah berfungsi meski belum maksimal. Proses pematangan masing-masing indra akan berlangsung seiring dengan usia dan proses perkembangan bayi (lihat boks perkembangan bayi). Contoh, perkembangan motorik bayi akan diiringi dengan perkembangan indra peraba, penglihatan dan pendengarannya. Ketika bayi mulai menggenggam mainan maka indra peraba dan penglihatannya ikut berkembang karena saat menggenggam, bayi akan merasakan tekstur mainan (lewat indra perabanya) serta mengamati warna dan bentuk mainan tersebut lewat indra penglihatannya.

Demikian pula dengan perkembangan bahasa bayi yang seiring dengan perkembangan indra pendengaran dan penglihatannya. Saat mulai berkomunikasi, katakanlah, indra pendengaran dan penglihatan bayi pun terasah karena saat berkomunikasi kedua indra tersebut digunakan pula.

Sedangkan indra penciuman dan perasa berjalan berdampingan dengan perkembangan kognitif bayi. Kala bayi menyusu maka perkembangan indra penciuman dan perasanya berkembang. Ia mencium aroma ASI yang khas dan merasakan manisnya air susu ibu.

INDRA PENGLIHATAN

Indra penglihatan bayi sudah berfungsi sejak lahir meski belum sempurna. Bidang penglihatannya kurang lebih baru setengah bidang penglihatan orang dewasa. Ini dikarenakan batang matanya yang belum berkembang. Otot-otot matanya yang lemah juga membuatnya masih belum dapat memusatkan mata secara bersama-sama sehingga pandangannya masih kabur dengan jarak pandang hanya berkisar 20–30 cm. Memasuki usia 6 minggu, bayi bisa lebih fokus dan mampu melihat bentuk secara lebih detail. Selanjutnya pada usia 6–8 bulan, bayi dapat menempuh jarak pandang yang sudah cukup jauh.

Seiring perkembangan usia—dan ketika sel-sel otaknya berkembang serta siap mengolah informasi yang ditangkap oleh indra penglihatannya—bayi pun akan mampu melihat dengan sempurna.

STIMULASI:

* Kenalkan benda warna-warni yang bergerak, mainan gantung, salah satunya. Mengingat jarak pandang bayi yang masih pendek, gantungkan mainan tersebut di atas boks dengan jarak tidak terlalu jauh (sekitar 30 cm) dari mata bayi. Biarkan ia menyentuh mainan tersebut untuk memberikan kesempatan kepadanya mengasah kemampuan motorik kasar dan halusnya. Gerakan-gerakan yang dilakukannya itu akan terkoordinasi dengan penglihatannya dan pada akhirnya akan mengoptimalkan kemampuan kedua bola matanya dalam menangkap objek.

* Dengan bertambahnya usia bayi, porsi dan cara stimulasi pun bisa ditingkatkan, yakni dengan memberikan sesuatu yang bergerak sehingga dapat melatih respons matanya. Saat bayi 3-4 bulan atau saat ia telah memiliki kemampuan menggenggam, berikan bola berwarna yang besarnya memungkinkan untuk digenggam oleh tangannya yang mungil. Ketika bola dilepaskan dari genggamannya maka bola akan terlepas dan bergerak menjauh darinya. Bola menjauh sekaligus memberi stimulasi penglihatan mata bayi tentang jauh dekat dari suatu benda.

* Ciptakan permainan interaktif. Cilukba, umpamanya, selain bisa merangsang penglihatan bayi sekaligus juga dapat menumbuhkan rasa gembira dan mengembangkan kemampuan bersosialisasinya. Mengajak bayi bertepuk tangan juga stimulasi yang dianjurkan. Gerakan bertepuk tangan dapat menginformasikan kepada si kecil bahwa gerakan tersebut adalah gerakan yang dilakukan ketika sedang bergembira. Bila koordinasi mata dengan otaknya berjalan baik, anak bisa menirukan gerakan-gerakan tadi.

INDRA PENDENGARAN

Indra pendengaran bayi mulai terbentuk semenjak dalam kandungan dan sudah memiliki saluran sambungan di telinganya serta dapat mengenali melodi suara sang ibu. Nah, saat lahir pendengarannya sudah sempurna.

Normalnya setelah 3-4 hari kelahirannya, dari telinga bayi akan keluar cairan amnioti yang sebelumnya menyumbat telinga tengahnya. Semenjak itulah bayi dapat menentukan arah datangnya suara, menentukan tinggi suara, dan identitas suara. Ini terbukti kala ia diajak berkomunikasi pasti menunjukkan respons dengan mengamati gerakan mulut kita. Memasuki usia 2 bulan, saat kemampuan motorik lehernya meningkat, bayi dapat mencari asal suara yang dikenalinya. Misalnya, suara orangtuanya.

STIMULASI:

* Ajaklah bayi mengobrol setiap saat. Ketika akan mandi ajak ia dengan ceria meski kemampuannya berkomunikasinya masih terbatas. “Mandi yuk sayang. Wah, airnya hangat ya? Coba sekarang perut Adek digosok dengan sabun….”

* Hindari menggunakan bahasa bayi (bahasa yang dicadel-cadelkan) ketika melakukan komunikasi dengan bayi. Sebaiknya, ajarkan sesuai penamaannya. Contoh, minum bukan mimi. Sehingga saat mulai berbicara ia sudah memiliki memori kata yang benar, bukan yang salah.

* Perdengarkan bunyi-bunyian yang teratur, dengan mendongeng, membacakan buku cerita, atau memperdengarkan ia musik. Khusus untuk musik, pilihlah musik dengan irama yang teratur, musik klasik yang riang, salah satu yang disarankan. Suara yang teratur dapat menstimulasi sinaps-sinaps (saraf-saraf otaknya) sehingga perkembangan otaknya dapat maksimal.

*l Saat bayi sudah bisa menoleh (sekitar usia 2 bulan), panggil namanya. Ini bisa juga dijadikan deteksi gangguan pendengaran. Bila indra pendengarannya dalam kondisi baik, ia akan berusaha mencari arah datangnya suara. Sebaliknya, gangguan pendengaran kemungkinan dialami bayi jika ia tidak mencari arah sumber suara.

INDRA PENCIUMAN

Sel-sel penciuman yang terdapat pada bagian atas hidung sudah berkembang semenjak lahir. Sebab itulah bayi sudah dapat membedakan bau ibunya dengan orang lain, misal. Ini ditunjukkan ketika bayi sedang menangis langsung bisa tenang dan terdiam saat digendong oleh ibunya. Sementara kalau yang menggendong orang lain, ia akan tetap menangis.

STIMULASI

* Semenjak lahir bayi dapat mengenali bau ibunya. Inisiasi menyusui dini bisa dijadikan bukti. Pada saat itu, bayi dapat mencari puting payudara ibu dengan penciumannya. Setelah menyusu ASI, ia akan mengenali aroma ASI sehingga ketika menangis dan disodori ASI, bayi akan langsung minum dan tampak tenang kembali.

* Pada saat usianya menginjak 6 bulan dimana ia mulai makan makanan pendamping ASI, manfaatkan cara pengolahan yang sedemikian rupa sehingga dapat menyajikan hidangan beraroma lezat padanya. Aroma makanan ini selain dapat membangkitkan selera makannya juga akan menstimulasi indra penciumannya.

INDRA PENGECAP

Indra pengecap dipengaruhi oleh kemampuan penciuman. Sel-sel pengecapan terletak di permukaan lidah dan daerah pipi. Indra pengecap akan bereaksi positif terhadap rasa manis dan ini ditunjukkan dengan cara mengisap-isap saat diberikan sesuatu (makanan) yang manis. Sebaliknya, bayi akan bereaksi negatif terhadap rasa asin, asam, dan pahit yang ditunjukkan dengan cara menangis atau menggeliat-geliat kala diberikan hidangan dengan rasa itu.

Indra pengecap bayi sudah bekerja sejak lahir. Dengan bantuan refleks mengisap, ia langsung dapat menikmati ASI. Jika sudah terbiasa minum ASI, umumnya bayi akan menolak asupan lainnya. Seperti, obat yang terasa lebih pahit atau susu formula yang disodorkan kepadanya. Itu karena ia sudah dapat membedakan rasa ASI dengan lainnya.

STIMULASI:

* Saat bayi baru lahir mengisap jari tangannya, biarkan saja ia melakukan itu. Ini merupakan salah satu cara bayi menstimulasi indra pengecapnya. Kebiasaan ini umumnya akan menghilang saat ia berusia 7 bulan.

* Bayi usia 3-4 bulan—yang umumnya sudah memilki kemampuan mengenggam— mempunyai kebiasaan memasukkan apa yang dapat diraihnya ke dalam mulut untuk digigit-gigit. Selama benda tersebut tak membahayakan dan cukup bersih, tak perlu dilarang mengingat ini adalah salah satu cara bayi bereksplorasi dengan indra pengecapnya.

* Memasuki usia 6 bulan, saat pemberian makanan pendamping ASI, bayi mulai bisa membedakan mana rasa manis, asin, maupun pahit. Untuk itu, perkenalkan ia dengan beragam rasa. Biasanya bayi akan merasa tidak nyaman bila yang diberikan terasa pahit.

INDRA PERABA

Kepekaan pada indra peraba dipengaruhi oleh sel-sel yang terletak dekat permukaan kulit yang sudah berfungsi sejak bayi lahir. Inilah yang menyebabkan bayi peka terhadap rabaan, tekanan dan suhu. Terbukti ketika baru lahir bayi akan menangis karena adanya perbedaan suhu antara di dalam perut ibu dan suhu di dalam ruangan.

Tanda lain telah berfungsinya indra peraba bayi adalah bayi peka terhadap rasa lapar dan haus. Ini ditunjukkan dengan menangis ketika rasa lapar dan haus menyerangnya. Tangisan juga ditunjukkan bayi ketika ia mengompol. Ini menunjukkan kulitnya peka terhadap rasa basah dan dingin.

STIMULASI:

* Stimulasi bisa dilakukan dengan banyak memberikan sentuhan ke kulitnya dengan cara membelainya. Belaian ini akan menimbulkan rasa nyaman dan menumbuhkan kepercayaan bayi pada lingkungannya.

* Berikan bayi selimut dari berbagai bahan; bahan berbulu, katun, sutera dan biarkan ia merasakan berbagai tekstur kain tersebut.

* Memasuki usia 4 bulan (ketika bayi mulai meraba-raba), letakkan telapak tangannya di mulut, hidung, telinga, atau kepala kita agar ia dapat merasakan kontur yang berbeda.

* Memijat bayi juga dapat menstimulasi indra perabanya. Pijatan selain memberikan efek relaks, juga membuat bayi dapat merasakan keras atau lembutnya pijatan yang diberikan sang bunda.

* Ketika bayi mulai mampu menggenggam berikan ia beragam mainan yang aman dengan kontur dan tekstur yang berbeda, seeperti, boneka plastik dengan boneka bulu, mainan kayu dengan gelas plastik, dan lain-lain. Ketika ia memegang dan menyentuh benda-benda tersebut maka ia dapat merasakan perbedaan baik dalam kontur dan teksturnya.

* Saat ia belajar berjalan (kira-kira 11 bulan) biarkan bayi berjalan tanpa alas kaki sehingga ia merasakan perbedaan kala telapak kakinya menyentuh lantai, karpet, atau rumput. Ini juga menstimulasi indra peraba bayi.

4 PERKEMBANGAN BAYI

Perkembangan bayi dikelompokkan menjadi 4, yakni perkembangan motorik, bahasa, kognitif dan personal sosial. Perkembangan motorik berkaitan dengan perkembangan saraf motorik kasar dan motorik halus. Yang dimaksud motorik kasar adalah gerakan tubuh yang membutuhkan keseimbangan dan koordinasi antaranggota tubuh, atau gerakan-gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar sebagian atau seluruh anggota tubuh. Contoh, berjalan. Sedangkan motorik halus adalah gerakan sebagian anggota tubuh tertentu yang menggunakan otot-otot halus. Saraf motorik halus ini dapat dilatih dan dikembangkan melalui kegiatan dan rangsangan yang kontinu. Seperti, kegiatan mengambil dan menggenggam mainan.

Perkembangan kognitif merujuk pada perkembangan pengetahuan bayi/anak dalam memberikan respons atau menyelesaikan suatu perintah yang berkaitan dengan lingkungan di sekitarnya. Misal, respons si kecil bila mendengar bunyi, menyusun mainan kubus yang ada di hadapannya, dan lain-lain.

Perkembangan personal-sosial lebih mengarah pada perkembangan kemampuan anak dalam berhubungan atau berinteraksi dengan orang lain atau lingkungan di sekitarnya. Termasuk di dalamnya perkembangan kemandirian bayi.

Nah, sementara definsi perkembangan bahasa adalah kemampuan anak dalam berbahasa atau berkomunikasi. Termasuk di dalamnya adalah kemampuan mendengar, memberikan respons atau mengikuti perintah seseorang.