Cara perawatan bayi terkadang masih menyisakan teka-teki bagi kita. Agar tak salah, simak penjabaran mengenai hal-hal yang patut dihindari dalam merawat sang buah hati.


1. MENYUNAT BAYI PEREMPUAN

Ada adat istiadat yang mewajibkan bayi perempuan untuk disunat. Tapi perlu diketahui sunat pada bayi perempuan kelak dapat memengaruhi kepekaan seksual saat dewasa nanti. Untuk itu tim medis yang diminta menyunat bayi perempuan demi alasan adat, umumnya hanya sekadar membersihkan bagian klitoris saja. Jadi, tidak ada pemotongan, meski pada bagian ujung klitoris sekalipun.

2. MENUTUP PUSAR DENGAN KOIN

Menekan pusar dengan koin setelah pusar puput umumnya dilakukan agar pusar bayi tidak bodong. Padahal ini malah mengundang timbulnya infeksi karena pusar yang baru saja puput sebenarnya belum dalam keadaan menutup sempurna dan kering. Lantaran itu menutup pusar dengan koin amat tidak disarankan. Soal bodong atau tidaknya pusar, pada dasarnya memang ada bayi yang sejak lahir punya “bakat” bodong karena “jendela” ke pusarnya belum menutup sempurna saat ia lahir. Pusar bodong juga bisa disebabkan hernia umbilikus. Nah, kondisi seperti ini jelas tidak dapat diatasi dengan hanya menaruh koin pada pusarnya melainkan diperlukan tindakan medis.

3. MEMBERSIHKAN VAGINA DARI BELAKANG KE DEPAN

Kebiasaan membersihkan anus dan vagina dari belakang (anus) ke arah depan (vagina) sama sekali tidak baik. Ini pun berlaku pada bayi. Saat si kecil BAB atau BAK yang wajib dibersihkan terlebih dahulu adalah vagina setelah itu baru anus. Jadi bukan dari anus menuju ke vagina. Cara yang salah hanya akan membawa kuman-kuman dari wilayah sekitar anus ikut menempel ke vagina.

4. MEMBEDAKI AREA SEPUTAR VAGINA

Setelah membersihkan vagina bayi dengan air, beberapa orangtua akan menaburkan bedak di sekitar daerah tersebut agar lebih kering. Tindakan ini kurang tepat karena taburan bedak di sekitar wilayah vagina malah akan menumpuk dan mengotorinya sehingga berisiko menyebabkan infeksi saluran kencing.

5. MENGOREK “PUTIH-PUTIH” DI VAGINA

Pada bayi wanita yang baru lahir kerap ditemui “putih-putih” menyerupai gel yang menempel di bagian dalam vagina, tepatnya di sekitar klitoris. Ini terjadi karena bayi baru lahir masih dipengaruhi hormon ibu. Banyak orangtua yang merasa khawatir dan berusaha membersihkan dengan cara mengorek menggunakan cotton bud. Semestinya hal ini tak perlu dilakukan. Cukup bersihkan “putih-putih” itu dengan air. Mengorek-ngorek vagina dikhawatirkan malah akan melukai wilayah klitoris. “Putih-putih” itu pun akan hilang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia bayi dan ketika hormon di tubuhnya telah berfungsi sempurna.

6. MENGOREK TELINGA

Membersihkan telinga bayi tak perlu mengorek sampai bagian dalam atau ke saluran tengah telinga. Cara yang disarankan adalah membersihkan di sekitar daun telinga saja karena telinga sebenarnya memiliki mekanisme mengeluarkan kotoran alias akan keluar sendiri. Jadi jangan khawatir, kotoran tidak akan sampai menggumpal dan menyumbat telinga, kecuali ada penyebab tertentu. Misalnya, infeksi pada telinga.

7. MEMBERSIHKAN”PUTIH-PUTIH” DI LIDAH

“Putih-putih” pada lidah dapat disebabkan oleh sisa ASI atau susu formula yang menempel. Untuk membersihkannya tak perlu sampai disikat atau digosok-gosok dengan sekuat tenaga. Cukup dengan kain kasa yang telah diberi air hangat kemudian dililitkan pada jari telunjuk ibu. Usap secukupnya atau 2-3 kali usapan. Menggosok lidah dengan kuat malah akan merusak permukaan lidah bayi. Bila kondisi “putih-putih”-nya tampak begitu mengganggu segera konsultasikan pada dokter.

8. MENGGUNAKANSARUNG TANGAN

Sarung tangan biasanya digunakan untuk menghangatkan bayi. Selain juga untuk membungkus kuku-kuku bayi yang panjang agar tidak menggores muka atau bagian tubuh bayi lainnya.

Apa pun alasannya, perlu diketahui sarung tangan sebaiknya sudah ditinggalkan setelah bayi berusia 1 bulan. Pada usia ini bayi sudah memiliki kemampuan mengontrol suhu tubuhnya, jadi tak perlu khawatir bayi akan kedinginan tanpa sarung tangannya.

Nah, soal kuku-kuku bayi yang panjang, asal tahu saja pemakaian sarung tangan yang terus-menerus bisa memengaruhi tumbuh kembangnya. Jadi lebih baik ibu memberanikan diri untuk memotong kuku si kecil dengan membeli gunting kuku yang aman dan mempelajari teknik memotong kuku bayi yang benar.

9. MEMBEDONG TERLALU KUAT

Tujuan membedong selain untuk menjaga kehangatan tubuh bayi, juga agar bayi dapat tidur tenang karena sampai usia 6 bulan, bayi masih mengalami refleks kaget (MORO). Dengan dibedong, saat refleks MORO terjadi, bayi akan merasa seperti ada yang memeluk sehingga ia bisa tertidur kembali.

Jadi boleh saja membedong bayi baru lahir namun jangan terlampau kuat, cukup longgar saja. Bedong yang terlalu kencang malah akan memengaruhi peredaran darah bayi, membuatnya sesak napas, juga dapat membuat bayi tidak bebas bergerak sehingga dikhawatirkan dapat mengganggu tumbuh kembangnya.

Soal bedong yang dapat meluruskan kaki bayi, jelas tidak benar. Pada awal kelahiran, kaki bayi memang memiliki kecenderungan bengkok karena selama dalam kandungan ia harus melipat kakinya akibat keterbatasan ruang. Setelah lahir, kondisi kakinya yang bengkok ini akan lurus dengan sendirinya seiring pertambahan usia.

10. MELILITKAN GURITA TERLALU KENCANG

Anggapan bahwa pemakaian gurita dapat mengempiskan perut bayi yang tampak membuncit jelas salah. Buncit akan “menghilang” sen—diri dengan berjalannya waktu tanpa menggunakan gurita.

Namun pemakaian gurita untuk menghindari gesekan pada tali pusar yang belum terlepas, boleh-boleh saja, asalkan pakaikan dengan longgar. Seperti halnya bedong, pemakaian gurita yang terlalu kuat dapat membuat bayi merasa sesak karena ia masih bernapas menggunakan perut. Lilitan gurita yang terlalu kuat juga dapat menghambat pertumbuhan organ di sekitar rongga dada dan perut.

11. MEMBERIKAN PISANG DAN NASI

Memberikan pisang atau bahkan nasi pada bayi yang usianya kurang dari 6 bulan tidak dibenarkan. Sistem pencernaan bayi sebelum 6 bulan belumlah sempurna dan hanya mampu menerima asupan susu. Perlu diketahui, usus bayi baru lahir belum memiliki enzim yang mampu mencerna karbohidrat dan serat-serat tumbuhan yang begitu tinggi. Akibatnya, pemberian pisang atau nasi yang terlalu dini bisa menyebabkan sumbatan pada usus atau diare yang berlebihan pada bayi.

Iklan